Senin, 13 Desember 2010

"PEMUDA HARAPAN"

“PEMUDA HARAPAN”

Oleh: firosyah al jannah*

Detik berlalu menyapu hari sendu
Muram mematung wajah lesu
Menaruh seciduk racun pada cawan Sang Ratu

Bunuh terbunuh
Budaya setan merayu
Pegang pusaka atau bergelimang darah kutu-kutu busuk

Pekik kuasa menggunung
Memakan rasa ke relung-relung
Akan hak si busung lapar
Akan hak anak-anak terlantar
Akan hak jiwa-jiwa yang terkapar

Di mana oh di mana?
Dia berdiri teguh membawa suluh
Sejuk gemericiknya di padang gersang
Menebas peluh yang bersarang dalam sangkar pengkhianatan
Menerkam duka kezoliman dengan kapak keadilan

Dia!
Bukan titisan dewa-dewi
Bukan titisan langit dan bumi
Dia titisan Ilahi
Mengalir sejuk dalam hati-hati perindu surgawi

Di mana oh di mana?
Dia musuh para durhaka
Penumbang segala belantara
Dia bagai pelita di tengah gulita sahara
Pencinta cita akhir nan mulia

Adalah dia…
Pemuda harapan!

*Penulis adalah Mahasiswi FT Pengembangan Wilayah dan Kota Angkatan 2006 Unhas
Anggota Humas KAMMDA Makassar

"LELAKI PECINTA MALAM"

LELAKI PECINTA MALAM

Oleh: firosyah al jannah*

(Lelaki Pecinta Malam 1)

Malam menguak tabir masa lalu

Mengintip kisah yang telah terkubur lama di dasar puing rasa yang masih tersisa

Apa kau tahu bahwa aku masih saja meringis merasakan jiwamu yang kian surut?

Lelaki pecinta malam

Masihkah luka bermalam dalam pekatnya jiwamu?

Masihkah puing-puing rasa itu kau simpan di sudut ruang hatimu?

Berpeluh pilu melumat dirimu yang semakin rapuh

Kau mengeluh pada rembulan yang hampir penuh

Lelaki pecinta malam

Kau selalu memilih berteman dengan malam bergumpal awan hitam

Luka, lara, duka kau sambut dengan tangan terbuka

Lelaki pecinta malam

Biarkan rasa melayang ke alam nestapa

Hampa tak berasa

Menjadi hati yang mati rasa


(Lelaki Pecinta Malam 2)

Di sudut ruang berbeda

Dia datang ke dalam ribaanmu, ke dalam dingin, dan heningmu

Mengetuk malam tersedu membisu

Tiada tabir yang memisahkan cintanya

Tiada rasa yang tak berbalas untuknya

Lelaki pecinta malam

Berkawan dengan malam-malam kemuliaan

Bersimpuh dalam sujud panjang pada Pemilik Alam Semesta

Akan puing-puing dosa yang bergelimang

Akan maksiat yang menggunung

Akan air mata yang mengalir membahasi relung

Akan diri yang hilang arah tujuan

Akan jiwa yang haus akan ampunan

Lelaki pecinta malam

Dia adalah ruh yang murni bersih yang selalu sadar kepada Allah kembali

Biarkan rasa melayang menangkap kalam-kalam Ilahi

September- 1 November 2010

*Penulis adalah Mahasiswi Pengembangan Wilayah dan Kota Unhas Angkatan 2006

Anggota Humas KAMMDA Makassar

Rabu, 08 Desember 2010

Press Rilis

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Makassar

“KORUPSI MUSUH KEMANUSIAAN”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Korupsi adalah musuh bersama bagi kemanusiaan khususnya bangsa Indonesia. Betapa tidak, berdasarkan data Political And Economic Risk Consultancy ( PERC) saat ini Indonesia menempati urutan satu sebagai Negara terkorup di kawasan Asia Pasifik. Sementara Transparency International Indonesia (TII) mencatat indeks persepsi korupsi di Indonesia pada tahun 2010 tidak mengalami perubahan dan stagnan dibanding sebelumnya, yakni mencapai 2,8. Indonesia menduduki posisi 110 dari 178 jumlah negara yang disurvei. Di sisi lain, jumlah orang kaya khususnya dari kalangan pejabat meningkat signifikan menjadi sekitar 8,1 persen tahun ini. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Juni lalu, saat ini ada sekitar 200 ribu warga Indonesia yang menyimpan dana di atas Rp1 miliar di berbagai bank. Tapi jika kita melihat di lampu-lampu merah ternyata masih banyak pengemis dan anak jalanan yang hidup dibawah garis kemiskinan. Disparitas sosial yang sangat ekstrim ini tentu merupakan potens krisis yang sangat besar jika tidak segera di atasi.

Korupsi merupakan salah satu kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang multiple effect, tidak hanya mengancam generasi saat ini akan tetapi turut mempengaruhi masa depan bangsa. Anggaran-angaran untuk rakyat, misalnya anggaran di bidang pendidikan yang bocor masuk ke kantong-kantong para koruptor secara langsung telah menghambat proses pencerdasan dan peningkatan sumber daya manusia. Belum lagi dana-dana dari pajak yang harusnya dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur demi peningatan kualitas kehidupan masyarakat justru di rampok oleh “Gayus-Gayus” yang banyak berkeliaran di institusi pemerintahan. Apa yang kita saksikan di media saat ini misalnya kasus mafia pajak Gayus HP Tambunan hanyalah gunung es yang di dalamnya menyimpan kasus lebih besar.

Pasca otonomi daerah diberlakukan, korupsi tidak hanya menggurita di pemerintah pusat, tetapi junga menjalar ke daerah-daerah. Berdasarkan data yang dihimpun ICW dalam kurun waktu 2004-2010, tercatat sebanyak 147 kepala daerah tersangkut kasus korupsi. Rinciannya, 18 gubernur, 17 walikota, 84 bupati, 1 wakil gubernur, 19 wakil bupati, 8 wakil walikota. Dari ratusan dugaan korupsi tersebut, estimasi total kerugian negara terhadap dugaan korupsi kepala daerah mencapai Rp 4.814.248.597.729. atau kurang lebih 5000 triliyun rupiah.

Belum lagi aparat penegk hikum hingga institusi seperti POLRI, KPK dan Kejaksaan yang sempat dihembus isu penyuapan. Dan jika betul itu terjadi, kepada siapa lagi rakyat berharap. Sementara setali tiga uang para wakil rakyat di senayan juga banyak yang sudah mendekam dirumah pesakitan akibat kasus korupsi ini.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut semakin nampak nyata bahaya laten korupsi. Maka Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Makassar menyerukan: Pertama, kepada masyarakat Indonesia untuk melawan segala bentuk korupsi bahkan hingga yang terkecil sekalipun seperti korupsi waktu. Dan adalah revolusi moralitas yang bisa mewujudkan hal tersebut. Kedua, Meminta aparat penegak hokum khususnya pimpinan KPK dan KAPOLRI untuk segera mengusut tuntas kasus-kasus korupsi yang selama ini belum terselesaikan diantaranya Skandal Bank Century, Kasus Rekening Gendut Polri, Kasus Mafia Pajak, Mafia Peradilan, Penjualan Saham (IPO) Krakatau Stell dan berbagai kasus korupsi lainnya. Ketiga, Meminta kepada Kejaksaan Tinggi Sulsel untuk membersihkan Sulsel dari bahaya laten korupsi. Keempat, mengajak kepada seluruh masyarakat untuk turun kejalan pada hari Kamis tanggal 9 Desember untuk kampanye anti korupsi sebagai bentuk komitmen dalam memerangi korupsi.

Demikian Pernyataan sikap ini kami buat sebagai bentuk keresahan dan kecintaan pada Indonesia dan kemanusiaan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tertanda

PENGURUS KAMMI DAERAH MAKASSAR

Jusman Dalle

(HUMAS)

*Keterangan: KAMMI Daerah Makassar akan melakukan Kampanye Simpatik Anti Korupsi pada hari Kamis,9 Desember 2010 Pukul 09.00 Di Fly Over

HIJRAH DARI PERSPEKTIF MANAJEMEN (Analisis Sejarah dan Prediksi Masa Depan)*

HIJRAH DARI PERSPEKTIF MANAJEMEN

(Analisis Sejarah dan Prediksi Masa Depan)*

Dimuat di

Koran Tribun Timur

Edisi Rabu (8/12) 2010 halaman 2

*Jusman Dalle (Mahasiswa Manajemen UMI dan Humas KAMMI Makassar)

Hijrah Rasulullah Muhammad Saw beserta para keluarga dan sahabat pada 14 abad yang silam, tepatnya tahun 622 Masehi atau tahun 1 Hijriyah merupakan sebuah gerakan revolusioner yang sangat fantastis. Dari peristiwa hijrah ini, Islam bergerak dari sebuah gerakan kecil di Mekkah menjadi negara Madinah. Rezim kafir Quraisy yang telah ratusan tahun mendominasi sendi-sendi kehidupan kota Mekkah tak mampu menghalangi proses mobilitas umat Islam tersebut, mobilitas yang dipenuhi dengan tekad perubahan, sebuah ikhtiar sejarah untuk mempertahankan eksistensi dan semangat ekspansif. Di kemudian hari, perisitwa bersejarah ini menjadikan Islam sebagai negara super power dan dari Madinah Islam mengatur kesejahteraan manusia hingga menguasai 2/3 belahan bumi. Dalam pendekatan manajemen, hijrah merupakan terobosan seorang Muhammad Saw yang oleh Dr. Muhammad Syafi’i Antonio dikatakan sebagai super leader dan super manajer.

Sebelumnya, di tahun 615 Masehi bertepatan dengan tahun ke-5 dari tahun kenabian, proses hijrah pertama telah dilakukan dengan negara tujuan adalah Habasyah. Hijrah pertama ini diikuti oleh dua belas orag laki-laki dan empat orang perempuan dibawah pimpinan Utsman bin Affan. Rasulullah Muhammad Saw tahu bahwa raja Ashhammah An-Najasy penguasa Habasyah adalah seorang pemimpin yang adil dan tak bakal ada seorangpun yang teraniaya di sisinya. Setelah rombongan pertama ini diterima baik oleh Najasy, maka pada tahun berikutnya sebanyak delapan puluh tiga orang laki-laki dan delapan belas wanita ikut hijrah ke Habasyah sebagaimana dituliskan oleh Al Allamah Sulaiman Al-Manshurfuri.

Akan tetapi setelah 7 tahun di Habasyah, perkembangan Islam tidak berjalan signifikan karena memang sebelumnya penduduk Habasyah masih berpegang teguh pada agama nenek moyang mereka, agama Kristen, termasuk rajanya Najasy . Akhirnya Rasulullah Muhammad Saw dan para sahabatnya mencari daerah yang lebih terbuka dan heterogen sehingga memungkinkan Islam diterima secara luas sebagai sebuah sistem kehidupan. Dan adalah Yastrib (sebelum berganti nama menjadi Madinah), kota pilihan tersebut.

Dari sini, saya ingin megajak pembaca sekalian menganalisis bagaimana ketajaman firasat masa depan, visi dan skill manajerial Muhammad Saw dalam memimpin sebuah gerakan kecil diantara dominasi kafir Quraisy Mekkah kemudian menjadi negara adi daya di Madinah. Sebelum proses hijrah ke Madinah tersebut berlangsung, Muhammad Saw sudah megirimkan seorang diplomat untuk membangun komunikasi awal dengan penguasa daerah setempat. Adalah Mush’ab bin Umair Al-Abdari dipercaya sebagai duta Islam, membangun komunikasi yang dalam manajemen kita sebut sebagai diplomasi dan negosiasi dengan pemuka kabilah di Madinah. Mush’ab bin Umair adalah pemuda yang dikenal pandai membaca, terampil dalam retorika dan komunikasi publik. Maka sesaat setelah tiba di Madinah, Mush’ab berhasil mengajak seluruh penduduk Madinah dari bani Al Asyhal yang dipimpin Usaid untuk memeluk agama Islam. Maka lambat laun penduduk Madinah berbondong-bondong masuk Islam. Dengan diplomasi Mush’ab bin Umair, tercatat 12 orang pimpinan penduduk Madindah dari 2 suku terbesar yaitu Khazraj dan Aus memeluk agama Islam. Dan keIslaman mereka sudah pasti di ikuti oleh kaumnya.

Sedangkan proses hijrah besar-besaran dari Mekkah ke Madinah paling tidak memberi tiga pelajaran penting dari perspektif manajemen modern sekaligus menggambarkan skill leadership yang dimiliki Rasulullah Muhammad Saw.Pertama adalah perubahan. Bahwa umat Islam di Mekkah terus mengalami tekanan hebat dari kaum kafir Quraisy, sehingga sebagai seorang manajer Rasulullah Muhammad Saw melihat bahwa kondisi yang mencekam tersebut tidak terlalu efektif untuk tumbuh dan berkembangnya agama Islam. Maka Rasulullah Muhamad Saw mengambil keputusan besar. Tindakan revolusioner untuk berubah demi sebuah eksistensi. Perubahan seberat apapun itu jika menyangkut eksistensi, baik individu, organisasi atau kelompok apapun namanya menjadi mutlak dilakukan. Karena adalah sebuah kesalahan manajemen jika membiarkan potensi yang ada terus menerus mengalami krisis hingga akhirnya melemah. Dan Rasulullah Saw mengambil tindakan tepat, mengatasi krisis eksistensi dengan melakukan hijrah. Pada akhirnya kita menyaksikan banyaknya perusahaan yang mengalami kemunduruan bahkan akhirnya pailit dikarenakan terlalu konserpatif, enggan untuk melakukan perubahan, lebih senang dengan cara-cara klasik, takut untuk berhijrah. Apa lagi di zaman modern saat ini, akan sangat naif jika masih ada yang enggan berubah. Karena pada intinya hijrah adalah perubahan untuk sebuah eksistensi.

Kedua adalah mobilitas. Hijrah ini merupakan mobilisasi masif umat Islam yang dikomandoi langsung oleh super manager, Muhammad Saw. Mobilisasi disini bukan hanya mobilisasi fisik secara literal, akan tetapi lebih luas Muhammad Saw telah memaknai mobilisasi sebagai pemanfaatan potensi umat Islam. Muhammad Saw telah memobilisasi potensi diplomatik di dalam diri Mush’ab bin Umair untuk membuka gerbang Islam di Madinah. Muhammad Saw menyadari bahwa penolakan di Mekkah yang selama ini terjadi lebih karena rasa sombong dan sikap tertutup pemuka Kafir Quraisy terhadap pembaharuan-pembaharuan, termasuk Islam yang mereka anggap asing. Sementara masyarakat Madinah yang keterogen lebih terbuka dengan perubahan. Maka Islam sebagai sebuah potensi besar untuk menata kehidupan menjadi lebih baik harus segera di mobilisasi mencari bentuk dan tempat idelanya untuk tumbuh berkembang. Dan hijrah ini merupakan strategic plannning. Mobilisasi juga berarti instrumen jika masih ada kehidupan. Karena mobilisasi berangkat atas respon terhadap ligkungan sekitar. Kepekaan membaca lingkungan yang tidak bersahabat harus dimiliki oleh seorang manajer . Karena di dalamnya tercermin sikap visioner. Salah satu perusahaan dunia yang melakukan mobilisasi ini adalah Virgin Corporation milik Sir Richard Branson, trilyuner dari Inggris. Nama besar Virgin yang memawahi lebih dari 350 perusahaan mendorong Sir Richard Branson untuk memobilisasi perusahaannya memulai satu proyek ‘gila’, yaitu wisata keluar angkasa. Luar angkasa yang selama ini dipandang sebagai objek penelitian dibidang antariksa menjadi berbeda di mata Sir Richard Branson, luar angkasa ternyata sangat menarik dan potensial untuk berbisnis. Maka berbekal nama besar Virgin Corporation, Richard Branson pada bulan Oktober 2010 yang lalu memulai uji coba peluncuran pesawat wisata luar angaksa yang diberi nama Virgin Galactic dan bermarkas di New Meksiko. Ajaibnya, tiket penerbangan perdana pun ludes sementara antrian untuk penerbangan berikutnya mash banyak. Sebuah contoh mobilisasi potensi yang sekaligus mengantarkan pada ekspansi.

Ketiga adalah ekspansi. Peristiwa Hijrah ini juga menjadi babak ekspansi pertama umat Islam. Islam yang awalnya tidak terinstitusi, tercerai berai dalam setiap personal akhirnya berevolusi menjadi sebuah negara besar dengan masyarakat heterogen. Ada muhajirin dan anshar di dalamnya, Muhammad Saw sebagai kepala negara. Maka tak heran jika dikemudian hari Micheal H. Hart menempatkan Muhammad Saw sebagai pemimpin paling sukses di dunia. Dan sejarawan Mc Donald mengatakan bahwa Madinah adalah negara Islam pertama dan termodern di zamannya. Muhammad Saw memulai dari gerakan kecil individu-individu hingga akhirnya terinstitusi menjadi negara. Saat ini ajaran Islam terus dipeluk oleh 1,6 miliar manusia penduduk bumi , Hijrah berhasil mengekspansi tidak hanya tanah atau bumi tetapi juga hati umat manusia. Wallahu’alam


AMAL JAMA’I, BUDAYA KEMENANGAN*


AMAL JAMA’I, BUDAYA KEMENANGAN*
*Andi Yakub Abdullah, S.Kep [Sekum KAMMI Daerah Makassar]

“Baik dalam risalah kenabian, imperium dunia, sampai kepada perilaku unik prajurit-prajurit lebah.”

“Dan Katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS.At-Taubah [9]: 105)

Kata bekerja di dalam Al-Qur’an mengantarkan alur pikir kita pada kebenaran bahwa Islam bukanlah sekedar konsepsi akan tetapi aplikatif, bukan sekedar idealitas yang berujung pada utopia akan tetapi harus merealitas di alam nyata sebagai mana sejarah telah mencatat bumi telah dimakmurkan oleh kerja-kerja generasi Rabbani (Khilafah Islamiah) yang telah meng-Islamisasi 2/3 belahan bumi meliputi Asia, Eropa, dan Afrika selama 13 abad lamanya. Mereka menyemai Islam bukan dengan bekerja serampangan, akan tetapi sebuah pekerjaan yang mempertemukan antara manajemen manusia dengan petunjuk Tuhan! Seperti kalimat yang diungkapkan oleh Anis Matta bahwa mereka adalah “akal-akal raksasa yang tercerahkan oleh wahyu.”

Dalam terminologi “bekerja,” kita mengenal Istilah amal jama’i/team work, yang secara sederhana berati sekelompok orang terdiri atas ketua dan anggota yang bekerja untuk mencapai tujuan bersama. Amal jama’i tidak hanya berdefinisi sebagai sebuah kelompok kecil, akan tetapi bisa juga diartikan dalam kelompok yang lebih besar seperti pengelolaan daerah, pulau, negara, bahkan dunia.

Dalam lingkup gerakan mahasiswa, memerlukan segala potensi SDM dengan beragam potensi, bakat, dan kecenderungan. Kesemuanya itu harus diaduk dengan baik dalam wadahamal jama’i, pas takarannya dan sesuai dengan tuntunan resep, agar menghasilkan kue gerakan yang lezat. Oleh karena itu kemampuan membangun, dan menyalurkan potensi secara tepat sangat diperlukan dalam meningkatkan kualitas amal jama’i sebuah gerakan.

Dalam konteks gerakan dakwah, kita mengenal istilah “terorganisir” yah sebagaimanakhulafaurrasyidin ke empat Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa “kebatilan yang terorganisir mampu mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir,” dalam organisasi gerakan dakwah “terorganisir” adalah kata kunci sukses sebuah amal’jama’i sebagai mana firman Allah:

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS. As-Shaff [61]: 4)

Allah swt mengumpamakan dakwah yang dicintai-Nya adalah dakwah yang di emban secara terorganisir dalam barisan yang teratur sebagaimana kekokohan suatu bangunan akibat dari keteraturan elemen-elemen yang menyusunnya.

Allah swt tidak meridhoi dakwah yang tidak teratur, sebagaimana Allah mengutuk Bani Israil, dalam sejarah Nabi Musa As saat membimbing bani israil. Allah mengutuk bani israil karena tidak melakukan amal jama’i, coba perhatikan firman Allah swt berikut:

Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci (Palestina) yang Telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: "Hai Musa, Sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah Perkasa, Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya". Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah Telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya kami Hanya duduk menanti disini saja". Berkata Musa: "Ya Tuhanku, Aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". Allah berfirman: "(Jika demikian), Maka Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. Al-Maidah [5]: 21-26)

Dikisahkan ketika Nabi Musa berjalan bersama kaumnya menuju Baitul Maqdis (palestina). Mereka diperintahkan untuk memasukinya dan memerangi siapa pun yang ada didalamnya serta berusaha menguasai tempat itu. Tapi mereka malah takut karena di Baitul Maqdis ada kaum Amalek yang posturnya besar-besar. Padahal mereka ada dibawah pimpinan Musa yang perkasa, yang telah diberikan Allah banyak Mukjizat. Sebenarnya kalau mereka masuk, mereka pasti menang, karena negeri itu telah dijanjikan bagi mereka. Tapi yang sadar hanya dua orang. Selebihnya malah menyakiti hati nabi dengan mengatakan, “Pergilah saja kamu berperang dengan Tuhanmu, kami menunggu”. Atau bahasa lainnya, “Ntar kalo udah menang, kabar-kabari ya”. Karena kekafiran mereka ini, Allah menyesatkan mereka selama 40 tahun berputar-putar di Padang Thif.

Berbicara mengenai amal jama’i dalam konteks yang lebih luas terkait sejarah pergiliran kemenangan dan kekalahan Imperium besar yang pernah mewarnai dunia di zamannya. Amal jama’i adalah sarana, didalam sarana tersebut terdapat substansi yang diperjuangkan bernama ideologi, ideologi inilah yang akan mewarnai konsep manajemen yang diterapkan dalam amal jama’i tersebut. Imperium Romawi dan Persia adalah salah satu kemasan monarki yang telah banyak melakukan penahlukan-penahlukan dengan menggunakan amal jamai. Tata struktur pemerintahan yang terdiri atas raja (sebagai pemimpin tertinggi), senat (sebagai penasihat raja), dan rakyat (sebagai obejek manajemen) adalah bentuk kesungguhan mereka dalam beramal jama’i. sehingga sejarah pun telah mencatat kisah-kisah heroik mereka saat menaklukkan seluruh benua Eropa oleh Kaisar Romawi dan benua Asia oleh Kisra Persia.

Secara karakter manajemen, baik Imperium Romawi, Persia, & Islam masing-masing menerapkan amal jama’i dalam kerja-kerja penaklukan mereka. Namun yang membedakannya adalah substansi yang menjadi ideologi mereka yang berbeda. Romawi dengan ideologi blasteran Yunani dan Kristen yang dikemas dalam bentuk monarki, Persia dengan ideologi majusinyayang juga dalam kemasan monarki, sedangkan Islam dengan ideologi Tauhid dengan kemasan khilafah (kepemimpinan ummat). Islam berhasil menahlukkan Romawi dan Persia karena Islam mempertemukan amal jama’i dengan petunjuk Allah swt _menyatukan antra Agama dan pengelolaan Negara, sedangkan Romawi meletakkan amal jama’i dengan mendikotomikan antara Agama dan Negara, terlebih parah lagi adalah Persia menggabungkan amal jama’i dengan petunjuk Syaithan_penyembahan berhala (Api).

Sebenarnya amal jama’i tidak hanya dilakukan oleh manusia, akan tetapi pada kehidupan binatang, Allah swt dengan kekuasaan-Nya memberikan Ilham kepada mahluk yang dikehendaki-Nya untuk melakukan kerja dengan keteraturan amal jama’i.

Coba perhatikan perilaku lebah, bagaimana mereka membangun istananya diatas pohon, dengan struktur pengorganisasian dengan hierarki Ratu, prejurit/pekerja (lebah pencari makanan, pembuat madu, pembangun sarang, dan penjaga sarang). Mereka sangat terorganisir sehingga dalam masa hidup mereka yang hanya ± 6 bulan, mereka bisa menghasilkan Madu tidak hanya bermanfaat bagi Negara lebah, akan tetapi bermanfaat besar bagi mahluk hidup lainnya terlebih manusia. Tidak hanya itu budaya amal jama’i yang diterapkan lebah adalah Al Qiyadah wal Jundiyah. Sang ratu memberikan perintahnya dengan bijak dan seksama. Kemudian beribu ekor lebah berpencar menyelesaikan tugasnya masing-masing tanpa banyak pertanyaan dan pertengkaran siapa yang harus mengerjakan ini dan itu, seakan-akan seperti dikendalikan dengan remote control mereka membagi tugas masing-masing. Melesat cepat dan bergegas sebelum hari mulai sore. Ibarat prajurit yang sedang bertempur, mereka menyusun strategi dan persiapan. Subahanallah Allah berfirman dalam surat cintanya:

“Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl [16]: 68-69)

Demikianlah bahwah amal jama’i merupakan budaya kemenangan. Siapapun yang menerapkannya, maka akan mencapai kesuksesan yang sempurna sesuai dengan tunjuan amalnya. Baik dalam Risalah Kenabian, Imperium dunia, sampai kepada perilaku unik prajurit-prajurit lebah.

Aktivis dakwah harusnya menyadari hal ini. Melakukannya dalam tiap kerja-kerja dakwahnya sehingga keberkahan Allah selalu menyertai cita-cita luhur tentang cinta pada-Nya. Cinta Khalid ibd Walid saat menaklukkan Romawi dan Persia, Cinta Salahuddin Al-Ayyubi saat membebaskan Al-Quds, Cinta Muhammad Al-Fatih saat membebaskan Konstantinopel, dan kini giliran kita apa bukti cinta kita? Dengan amal jama’i apa yang telah kita tahlukkan? Bangkit saudaraku! Dengan amal jama’i kita giring diri dan ummat ini menuju Dunia BARU! Dimana Islam menjadi rahmat bagi semesta Alam… wallahu a’lam bisshawab.